RINGKASAN: UNS dan UB berkolaborasi mengembangkan reaktor fotokatalis berbasis karbon nitrida untuk pengolahan limbah cair, didukung pendanaan LPDP 2025. Kolaborasi ini melibatkan pemerintah daerah dan industri untuk memastikan teknologi sesuai kebutuhan lapangan dan mempercepat implementasinya.
UNS — Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta berkolaborasi dengan Universitas Brawijaya (UB) Malang menyelenggarakan Workshop, Diskusi, dan Konsultasi Riset Karbon Nitrida untuk Pengolahan Limbah Cair dengan dukungan pendanaan LPDP 2025. Kegiatan ini menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo, DLH Kabupaten Ngawi, serta PT Entry Jaya guna memperkuat sinergi antara akademisi, pemerintah daerah, dan industri.
Workshop ini menjadi wadah pemaparan progres pengembangan reaktor fotokatalis berbasis karbon nitrida yang dirancang untuk mengolah limbah cair secara lebih efektif dan ramah lingkungan. Tim peneliti UNS dan UB Malang mempresentasikan perkembangan desain reaktor, karakterisasi material fotokatalis, serta hasil uji awal kinerja sistem dalam pengolahan limbah cair.
Program riset ini dipimpin oleh Dr. Maria Ulfa, S.Si., M.Si., dengan anggota tim UNS serta beberapa Mahasiswa UNS. Selaku Ketua Tim, Dr. Maria Ulfa mengungkapkan bahwa pengembangan reaktor saat ini telah memasuki tahap lanjutan.
“Proses pengembangan telah mulai memasuki tahap integrasi aplikasi Internet of Things (IoT) yang memungkinkan pemantauan kondisi limbah secara real time melalui penggunaan berbagai sensor. Namun demikian, peran serta mitra sangat diperlukan untuk memberikan gambaran kondisi wilayah agar potensi reaktor dapat dimaksimalkan,” ungkapnya kepada uns.ac.id, Senin (5/1/2026).
Diskusi yang melibatkan DLH dan mitra industri difokuskan pada potensi implementasi teknologi di lapangan, tantangan teknis, serta penyesuaian desain reaktor agar sesuai dengan karakteristik limbah cair di daerah dan sektor industri.
Perwakilan DLH Kabupaten Ngawi, Dr. Anik Krisnawati, menyampaikan bahwa kondisi geografis wilayah menjadi tantangan tersendiri dalam penerapan teknologi berbasis pemantauan real time.
“Beberapa kendala di Kabupaten Ngawi antara lain panjangnya aliran sungai serta kondisi topografi yang sebagian besar berupa kawasan hutan, yang berpotensi menimbulkan keterbatasan sinyal untuk pengiriman data secara real time,” jelasnya.
Hal senada disampaikan oleh Dr. Sigit Samsunar selaku perwakilan DLH Kabupaten Sukoharjo. Ia menyebutkan bahwa meskipun topografi Sukoharjo relatif homogen, tantangan teknis tetap perlu diperhatikan.
“Kondisi wilayah Sukoharjo cukup homogen dari sisi topografi, namun penerapan sistem pemantauan real time di kawasan industri masih menghadapi kendala, terutama terkait suhu lingkungan yang relatif panas dan berpengaruh terhadap kinerja reaktor,” ujarnya.
Sementara itu, Farit Ardiyanto selaku perwakilan PT Entry Jaya menyampaikan perkembangan dari sisi manufaktur reaktor. “Pembuatan reaktor saat ini telah memasuki tahap pengembangan prototipe. Penambahan berbagai sensor serta peningkatan kapasitas volume pengolahan limbah dapat dilakukan apabila sumber daya pendukung telah tersedia,” jelasnya.
Sedangkan masukan berharga dari Denis Eka Cahyani, S.Kom., M.Kom. dari Prodi Matematika Universitas Negeri Malang (UM) yang membidangi komputasi menilai produk ini penting dalam pengembangan alat ukuran realtima untuk lingkungan.
Keterlibatan pemerintah daerah dan industri dalam kegiatan ini menjadi aspek penting untuk menyelaraskan pengembangan teknologi dengan kebutuhan nyata di lapangan, sekaligus mendorong implementasi hasil riset secara berkelanjutan.
Perwakilan DLH dan mitra industri memberikan masukan terkait potensi penerapan reaktor fotokatalis di instalasi pengolahan limbah cair, baik di sektor industri maupun pengelolaan lingkungan daerah.
Melalui kolaborasi ini, UNS, UM dan UB menegaskan komitmen untuk menghasilkan riset yang tidak hanya unggul secara ilmiah, tetapi juga berdampak langsung bagi penyelesaian persoalan lingkungan. Dukungan LPDP 2025 diharapkan mampu mempercepat pengembangan dan penerapan teknologi reaktor fotokatalis karbon nitrida dalam pengolahan limbah cair di Indonesia. HUMAS UNS
FAQ (Tanya Jawab)
T: Apa tujuan utama kolaborasi antara UNS dan UB?
J: Kolaborasi ini bertujuan untuk mendorong inovasi reaktor fotokatalis berbasis karbon nitrida guna mengolah limbah cair secara lebih efektif dan ramah lingkungan.
T: Fitur apa yang ditambahkan dalam pengembangan reaktor fotokatalis saat ini?
J: Pengembangan reaktor kini telah memasuki tahap integrasi aplikasi Internet of Things (IoT) untuk pemantauan kondisi limbah secara real-time menggunakan berbagai sensor. [⚓]
T: Siapa saja mitra yang terlibat dalam pengembangan teknologi pengolahan limbah cair ini?
J: Kegiatan ini menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sukoharjo, DLH Kabupaten Ngawi, dan PT Entry Jaya. [⚓]